Saturday, August 12, 2017

Sumber Daya Alam Desa Dlemer



Desa Dlemer memiliki keunggulan dalam sektor pertanian, dimana meliputi hasil pertanian berupa padi, jagung, kacang kacangan dan singkong. Keunggulan dalam sektor agraris lah membuat para penduduk setempat berprofesi sebagai buruh tani dan menjadi mata pencaharian utama mereka.


Jagung

Jagung merupakan bahan pokok pengganti beras warga Dlemer. Selain menjadi bahan pokok, hasil pertanian jagung juga dijual langsung ke pasar dalam bentuk mentahan.

Padi

Sama seperti jagung, padi juga merupakan keunggulan pertanian yang cukup besar namun tidak sebanyak jagung. Sebagian warga desa Dlemer memiliki lahan tanaman padi, tidak jauh berbeda dengan jagung. Kebanyakan warga hanya menjual padi dalam bentuk beras mentahan tanpa ada pengolahan hasil pertanian.


Singkong

Tanaman singkong tidak ditanam secara keseluruhan didaerah pertanian. Dan hanya sebagian warga yang memiliki lahan pertanian singkong. Jadi tanaman singkong hasil panennya tidak banyak seperti jagung dan padi. Pemanfaatan pengolahan singkong belum dikatakan maksimal, karna masih perlu pengetahuan warga untuk mengolah berbagai macam olahan yang berbahan dasar singkong.

Kacang 


Sebagian kecil warga desa Dlemer menanam kacang-kacangan dalam jumlah sedikit tetapi merata disetiap lahan yang dimilikinya. Kacang – kacangan berupa kacang ijo, kacang tanah, dan kacang panjang.
Read More

Sarana Kesehatan Desa Dlemer


Pada bidang kesehatan desa Dlemer terdapat 1 tempat Poli Kesehatan Desa (POLINDES). Polindes tersebut menempati satu bangunan dengan Bidan desa. Dengan adanya sarana kesehatan desa Dlemer, kesehatan warga dapat terpantau dengan baik. Hal ini juga didukung dengan sering diadakannya pelaksanaan pengecekan kesehatan rutin yang dilaksanakan di kediaman Kepala Desa.
Read More

Pendidikan Swasta Desa Dlemer





YAYASAN AL ASIYAH
Yayasan Al Asiyah merupakan yayasan sekolah swasta yang terdiri dari SMP, TK, PAUD, dan Madrasah.

SMP AL ASIYAH adalah salah satu dari lembaga pendidikan swasta yang berada dibawah naungan yayasan AL ASIYAH yang memiliki beberapa jenjang pendidikan, diantaranya yaitu PAUD, TK, SMP, dan Madrasah. SMP AL ASIYAH memiliki 3 ruang kelas yang masing masing digunakan oleh siswa kelas satu sampai kelas tiga.


Yayasan Al Asiyah memiliki satu TK dan satu PAUD yang berada dalam naungan yayasan yang sama dengan SMP Dlemer yaitu yayasan AL ASIYAH. Saat ini, yayasan AL ASIYAH masih dalam tahap pembangunan ruang kelas baru dengan tujuan agar dapat menampung lebih banyak murid dari jenjang PAUD, TK, ataupun SMP.


Selain jenjang pendidikan formal, desa yayasan Al Asiyah juga memiliki jenjang pendidikan non-formal yaitu Madrasah AL ASIYAH. Pendidikan Madrasah di desa Dlemer hampir menjadi kewajiban bagi anak anak di desa Dlemer maupun anak anak yang ada di sekitar desa Dlemer. 
Read More

Pendidikan Negeri Desa Dlemer



Desa Dlemer memiliki satu lembaga pendidikan negeri formal tingkat sekolah dasar yaitu SDN 1 Dlemer. SDN Dlemer 1 berada di dusun Dlemer. Meskipun dengan keadaan beberapa ruang kelas sedang direnovasi, namun tidak mengurangi kelancaran kegiatan belajar mengajar.

Read More

Wednesday, August 9, 2017

Perekonomian Warga Desa Dlemer


Masyarakat Dlemer tergolong perekonomian menengah kebawah, dikarenakan penduduk desa Dlemer memiliki kehidupan sosial dan ekonomi yang sangat bergantung pada hasil pertanian, tenaga kerja diluar Negeri (TKI) dan peternak. Khususnya masyarakat di dusun Ronceh, mayoritas hanya sebagai petani dan jarang yang memiliki ternak sebagai penunjang perekonomian desa khususnya di dusun Ronceh. Selain itu, desa Dlemer tidak memiliki produk olahan dari hasil pertanian yang unggul dikarenakan kurangnya pemberdayaan sumber daya manusia dan informasi serta pelatihan mengenai pengolahan produk pertanian. Dan juga masyarakat daerah Dlemer lebih tertarik untuk bekerja diluar negeri dengan gaji yang cukup menjanjikan.

Banyak remaja lulusan Sekolah Menengah Atas yang mengadu nasib ke luar negeri sebagai TKI ataupun Pelayaran untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik. Namun hal ini membuat berkurangnya jumlah remaja aktif di desa Dlemer serta non-aktifnya Karang Taruna desa Dlemer.
Read More

Sistem Administrasi Desa Dlemer


Berdasarkan survey sistem administrasi untuk masyarakat Dlemer sudah cukup baik. Hal tersebut dilihat melalui prosedur pengurusan surat-surat dan kartu-kartu kependudukan. Setiap warga yang menginginkan untuk mengurus kartu keluarga misalnya, pengurusan E-KTP warga tidak perlu ke Kecamatan untuk mengurus surat yang dibutuhkan, sehingga 95% dari warga desa sudah memiliki E-KTP meskipun masih dalam bentuk surat keterangan. Warga desa cukup melaporkan surat apa yang dibutuhkan kepada perangkat desa untuk dilaporkan kepada Kecamatan untuk diproses.

Dengan terciptanya kemudahan dalam sistem administrasi desa, hal ini merupakan bentuk dari maksimalnya pelayanan perangkat desa terhadap masyarakat. Tidak hanya dalam hal keberkasan, namun juga dalam hal komunikasi desa juga tersistem dengan baik. Jadi warga desa dapat merasakan bentuk pelayanan desa dengan maksimal. 
Read More

Serba Serbi Desa Dlemer


Desa Dlemer merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan. Desa Dlemer terletak 4 KM ke arah Selatan dari kota Kecamatan Arosbaya. Desa Dlemer merupakan salah satu dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Arosbaya dengan luas wilayah 1,32 Km2. Desa Dlemer berbatasan langsung dengan beberapa desa yaitu Plakaran, Karangpao, dan desa Mangkon. Desa Dlemer memiliki 2 dusun, yaitu :  dusun Dlemer dan dusun Ronceh. Akses jalan menuju dusun Dlemer terbilang cukup baik dengan kondisi sudah ter-aspal dan dapat dilewati kendaraan roda 4. Akses jalan menuju dusun Ronceh juga terbilang cukup baik namun hanya dapat dilalui menggunakan kendaraan roda 2.

Kehidupan sosial masyarakat desa Dlemer mayoritas sebagai petani. Rata-rata potensi lokal yang ada di desa Dlemer terdapat dalam bidang pertanian yaitu jagung, padi, dan singkong. Sedangkan dari segi Pendidikan di desa Dlemer meliputi pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan Formal mencangkup PAUD, TK, Sekolah Dasar dan SMP dengan jumlah masing-masing berjumlah satu instansi. Serta pendidikan non formal berupa Madrasah yang bergerak dalam bidang pendidikan agama islam.

Berdasarkan data penduduk yang telah diterima, jumlah penduduk desa Dlemer yaitu ±800 jiwa dengan jumlah kepala keluarga ±360 jiwa. Dengan jumlah penduduk kurang dari 1000 jiwa, desa Dlemer terbilang memiliki jumlah penduduk yang cukup sedikit ditambah dengan banyaknya penduduk yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara asing. Sehingga keberadaan penduduk desa Dlemer semakin sedikit.
Read More

Tuesday, August 8, 2017

Letak Geografis Desa Dlemer



Desa Dlemer merupakan salah satu dari 18 desa di wilayah Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Desa Dlemer terletak 4 Km ke arah Selatan dari kota Kecamatan Arosbaya dengan luas wilayah 1,32 Km2. Iklim desa Dlemer, sebagaimana desa-desa lain di wilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di desa Dlemer Kecamatan Arosbaya.
Read More

Struktur Organisasi Desa


Struktrur Perangkat Desa :
  1. Kepala Desa: Moh. Rasul
  2. Sekertaris Desa: H. Holik Alimin
  3. KAUR Pemerintahan: Naji Talwi
  4. KAUR Pembangunan: Moh. Safik
  5. KAUR PJUKMoh. Juri
  6. KAUR KESRA: M. Toyib
  7. KAUR Keuangan: AB. Rosaq
Struktur organisasi desa Dlemer tidak terdata kepala dusun. namun setiap dusun di desa Dlemer memiliki kepala dusun masing masing. Sedangkan Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) tidak terdapat di desa Dlemer. Namun dalam hal pelayanan masyarakat, perangkat desa Dlemer tetap bisa dilaksanakan dengan baik.
Read More

Visi dan Misi Desa Dlemer



Berdasarkan hasil diskusi dengan perangkat desa. Diperoleh suatu gagasan Visi dan Misi desa Dlemer sebagai berikut:

Visi :
Terwujudnya  pemerintahan desa Dlemer yang  kredibel  dan akuntabel dalam memberikan pelayanan maksimal masyarakat. Kredibel mengandung makna daya tanggap atas permasalahan dan tuntutan masyarakat cepat bertindak dan cepat menyelesaikan dengan lingkungan dan tuntutan. Akuntabel mengandung makna bertanggung jawab.  Kemampuan dan keahlian dalam bidangnya serta dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administratif. Pelayanan tepat waktu guna tepat sasaran serta aspiratif atau akomodatif.

Misi:
  1. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan desa
  2. Menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur yang professional
  3. Menjalin koordinasi dan kerja sama di desa-desa
  4. Meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat
  5. Memiliki respon cepat terhadap permasalahan masyarakat
Diharapkan dengan adanya Visi dan Misi desa, perangkat desa mampu menyalurkan tujuan dan melaksanakan bentuk dari Visi dan Misi desa Dlemer
Read More

Thursday, August 3, 2017

Sejarah Desa Dlemer dan Kerajaan Plakaran Arosbaya



Dlemer merupakan salah satu desa dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Desa Dlemer merupakan tempat yang sangat bersejarah dilihat dari keberadaan lokasi kerajaan kecil di Arosbaya yaitu kerajaan Plakaran, yang pusat pemerintahannya sudah berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya). Sejarah dari terbentuknya desa Dlemer khususnya nama desa, tidak terlepas dari sejarah peradaban kerajaan kecil serta persebaran islam pertama di Arosbaya khususnya di kawasan Madura barat. Nama Dlemer atau juga disebut Dlemir berasal dari istilah budaya dan istilah islami yaitu Dhalem Amir. Dhalem merupakan kediaman/rumah sesepuh, sedangkan Amir merupakan panggilan dalam bahasa arab untuk raja/penguasa. Jadi nama desa Dlemer merupakan tempat kediaman penguasa pada masa pemerintahan kerajaan kecil di Arosbaya, sedangkan pusat kerajaan kecil tersebut berada di desa Plakaran. Sejarah Kerajaan kecil tersebut tidak lepas dari situs keramat Makam Agung yang terletak di desa Plakaran yang banyak dikenal dengan situs keramat Islam Onggu’ (Islam Mengangguk).

Sebelum adanya kerajaan kecil tersebut, Arosbaya mengalami beberapa masa. Yang pertama Masa dimana sebelum adanya kerajaan kecil, para leluhur di Arosbaya memiliki budaya kerohanian dan kebatinan yang sangat kental yaitu agama sebelum menyebarnya Islam di Arosbaya. Kemudian masa kerajaan kecil di desa Plakaran. Serta masa kerajaan Islam dimana Agama Islam dapat menyebar ke seluruh wilayah Arosbaya hingga ke Madura Barat.

Pada kisaran awal abad ke XV silam, salah seorang keturunan kerajaan yaitu Ki Demung Plakaran yang berasal dari Madegan Kabupaten Sampang, hijrah ke daerah Arosbaya tepatnya di desa Plakaran. dipimpin oleh Ki Demung Plakaran yang apabila dijabarkan secara rinci merupakan keturunan dari Raden Ainul Yaqin, Sunan Giri. Sebelum terbentuknya kerajaan atau pemerintahan kecil tersebut, Ki Demung membentuk kelompok kecil masyarakat, lalu kemudian membentuk sistem pemerintahan kecil serta memposisikan dirinya sebagai pemimpin pemerintahan. Dalam masa pemerintahannya, Ki Demung menjadi panutan masyarakat. Kemudian Ki Demung menikah dengan salah satu gadis yang bernama Ni Sumekar. Pernikahannya bersama Ni Sumekar dikaruniai lima orang anak, yang bernama Pangeran Pramono, Pangeran Pratolo, Pangeran Pratali, Pangeran Panangken, dan Pangeran Pragalba.

Pada saat masa pemerintahan Ki Demung, beliau pernah memperoleh petunjuk pada saat bertapa. Petunjuk tersebut mengisyaratkan bahwa siapa dari salah satu putranya akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin kerajaan. Dan Pangeran Pragalba lah yang kemudian melanjutkan kepemimpinan Ki Demung Plakaran. Setelah Ki Demung wafat, Pangeran Pragalba alias Pangeran Ki Lemah Duwur dinobatkan menjadi pemimpin kerajaan kecil di Plakaran.
Pada masa pemerintahan Pangeran Pragalba, beliau memiliki tiga orang istri. Bersama salah satu istrinya yang bernama Nyi Ageng Mamah dari Madegan Kabupaten Sampang, Pangeran Pragalba dianugrahi tiga orang anak yaitu Raden Pratanu, Raden Prakoso, dan Raden Pranoto. Dan pada saat Pangeran Pragalba sepuh, beliau mengamanahkan putra sulungnya, Raden Pratanu untuk menjadi putra mahkota guna melanjutkan pemerintahan sang ayah.
Pada masa inilah sejarah tentang julukan Pangeran Pragalba sebagai Pangeran Islam Ongguk bermula. Konon, saat Raden Pratanu yang mulai beranjak remaja, sering kali didatangi oleh seorang lelaki amat tampan dan berbusana serba putih (sorban). Setiap kali lelaki tersebut hadir dalam mimpinya, lelaki tersebut selalu menganjurkan agar Raden Pratanu segera mencari tahu tentang agama baru, yakni Agama Islam dan juga dianjurkan agar mendalami agama tersebut ke daerah Kudus.
Karena mimpi yang sama sering dialami Raden Pratanu, akhirnya beliau bercerita pada ayahnya yaitu Pangeran Pragalba. Pangeran Pragalbo kemudian mengutus Patihnya Empu Bageno, untuk pergi ke Kudus agar mencari tahu tentang agama tersebut. Dalam beberapa sumber sejarah Madura, tidak disebutkan apakah keluarga Pangeran Pragalbo saat itu memeluk Agama apa.

Setelah Empu Bageno sampai di daerah Kudus, Empu Bageno kemudian berjumpa dengan Sunan Kudus dan menjelaskan maksud serta tujuannya datang ke Kudus, yaitu untuk mencari tahu tentang Agama Islam. Kemudian Sunan Kudus menegaskan bahwa Empu Bageno akan bisa mendalami Agama Islam jika dia masuk dan memeluk Agama Islam.

Setelah menjadi muslim serta menjadi santri Sunan Kudus yang tekun dan patuh, Empu Bageno akhirnya kembali ke Arosbaya. Setelah Raden Pratanu mengetahui bahwa Empu Bageno telah mempelajari Agama Islam lebih dulu dari pada dirinya, Raden Pratanu merasa marah dan sempat ingin menghukum Empu Bageno. Namun hal itu tidak terjadi dan pada akhirnya Raden Pratanu memeluk Agama Islam dengan mengucap dua kalimat Syahadad.

Sejarah yang telah beredar dimasyarakat, mengatakan bahwa julukan Pangeran Islam Ongguk (Pangeran Pragalba) bermula ketika Raden Pratanu yang mengucapkan kalimat Syahadat didepan ayahnya yaitu Pangeran Pragalba karena dikatakan bahwa beliau masih belum memeluk islam dan pada saat itu dikatakan juga bahwa Pangeran Pragalba mengangguk sebagai isyarat masuk agama islam. Namun penggalan sejarah tersebut dinilai tidak tepat oleh salah satu tokoh masyarakat Bangkalan Kh. Hasanuddin Madani. Beliau merupakan tokoh islam di Bangkalan yang tahu tentang sejarah keislaman di Madura khususnya di Arosbaya. Menurut beliau, julukan pangeran Ongguk bukan merupakan upaya Peng-Isalaman Raden Pragalbo, namun pangeran Pragalba mengangguk merupakan isyarat dari kesepahaman Pangeran Pragalba terhadap Agama Islam dan menyetujui semua gagasan bahwa memeluk Agama Islam dijadikan kebijakan kerajaan. Karena sebenarnya, kerajaan kecil pragalba sudah membawa islam sejak masa pemerintahan Ki Demung Plakaran. Selain itu Pangeran Pragalba juga memiliki tanda bahwa telah beragama Islam yaitu Pangeran Pragalba mengenakan sorban yang dikenakan dibelakang bajunya. Begitulah, sejarah sebenarnya tentang julukan Pangeran Islam Onggu’ yang tidak diketahui masyarakat umum di Madura khususnya di Arosbaya sendiri.

Pada masa kerajaan, persebaran Islam masih secara tertutup karena para keturunan raja khawatir akan adanya perselisihan antara kerajaan dengan budaya kerohanian dan kebatinan yang ada di masyarakat Arosbaya. Para keturunan raja khususnya Ki Demung dan putranya pangeran Pragalba menunggu datangnya tokoh agama yang kokoh untuk mempermudah menyiarkan Agama Islam. Sehingga sejarah yang beredar tidak menjelaskan detail bahwa keluarga Pangeran Pragalba sudah memeluk Agama Islam. Karena apabila dijabarkan, silsilah dari Ki Demung Plakaran akan menujukkan bahwa keturunan kerajaan merupakan keturunan dari Raden Ainul Yaqin Sunan Giri. Berikut catatan silsilah singkat keturunan kerajaan:

Raden Ayu Ireng (Putri dari Raden Pratanu), binti Raden Pratanu, bin Pangeran Pragalba, bin Ki Demung Plakaran, bin Ki Arya Puyung, bin K. Arya Patinggal, bin K. Arya Mangar, bin Ki Lembu Petteng, bin Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Sumber: catatan silsilah dari Kh. Hasanudin Madani

Berdasarkan silsilah tersebut, dapat disimpulkan bahwa keturunan raja Ki Demung Plakaran dan Raden Pratanu sudah memeluk islam, dan karena kentalnya kebudayaan Arosbaya masyarakat arosbaya hingga Raden Pratanu belum mengetahui tentang Agama Islam. Dan sejarah persebaran Agama Islam di arosbaya diawali dari Raden Pratanu yang telah mengetahui Agama Islam dan pada masa itulah Agama Islam mulai menjadi kebijakan kerajaan. Dimasa itu, Raden Pratanu menikah dan dikaruniai 5 orang anak. Salah satu diantaranya adalah putri yang bernama Raden Ayu Ireng. Raden Ayu Ireng kemudian disandingkan dengan keturunan Ulama besar yaitu Pangeran Musyarif yang berasal dari keturunan Syekh dari Timur Tengah.

Pangeran Musyarif merupakan keturunan dari Syekh Jamaludin Akbar al-Husaini (Keturunan Husain). Syekh Jamaludin Akbar merupakan seorang muballigh terkemuka, dan tokoh besar penyebar Islam di Nusantara. Dikisahkan Pangeran Musyarif datang ke Madura tepatnya di Gunung Geger untuk menyebarkan Agama Islam. Dengan disandingnya Pangeran Musyarif dengan Raden Ayu Ireng yang merupakan keturunan dari kerajaan, maka persebaran Islam di Arosbaya semakin pesat sehingga menjadi seperti sekarang. Karena usaha Pangeran Musyarif dalam menyampaikan dakwah Islam, beliau dijuluki dengan nama Pangeran Musyarif Panotogomo yang berasal dari kata Panoto yang berarti penata dan kata Agomo yang berarti agama.


Sehubungan dengan nama desa Dlemer yang mengandung nilai budaya dan agama, diyakini bahwa nama tersebut dibawa oleh Pangeran Musyarif yang meletakkan istilah bahasa kebudayaan serta istilah bahasa arab dalam nama desa Dlemer. Beberapa sumber mengatakan bahwa lokasi tepat beradanya rumah kediaman raja berada di belakang kediaman Kepala Desa Dlemer namun tidak ada bekas peninggalan yang menunjukkan sisa bangunan kediaman raja tersebut. Dikatakan juga bahwa ada peninggalan sejarah berupa Kolla (Pemandian raja) serta lokasi awal beradanya pandai besi di Arosbaya yaitu di Dlemer barat, dan desa Mangkon. Lokasi pandai besi tersebut kemudian dipindah ke daerah lain di Arosbaya yang kemudian dinamakan Pandian yang berarti tempat pandai besi. Namun peninggalan tersebut tidak menyisakan sisa bangunan, sehingga apabila tidak dibangun infrastruktur sejarah, maka masyarakat tidak akan tahu tentang sejarah peninggalan kerajaan di desa Dlemer.
Read More