Thursday, August 3, 2017

Sejarah Desa Dlemer dan Kerajaan Plakaran Arosbaya



Dlemer merupakan salah satu desa dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan. Desa Dlemer merupakan tempat yang sangat bersejarah dilihat dari keberadaan lokasi kerajaan kecil di Arosbaya yaitu kerajaan Plakaran, yang pusat pemerintahannya sudah berpindah ke Arisbaya (sekarang Arosbaya). Sejarah dari terbentuknya desa Dlemer khususnya nama desa, tidak terlepas dari sejarah peradaban kerajaan kecil serta persebaran islam pertama di Arosbaya khususnya di kawasan Madura barat. Nama Dlemer atau juga disebut Dlemir berasal dari istilah budaya dan istilah islami yaitu Dhalem Amir. Dhalem merupakan kediaman/rumah sesepuh, sedangkan Amir merupakan panggilan dalam bahasa arab untuk raja/penguasa. Jadi nama desa Dlemer merupakan tempat kediaman penguasa pada masa pemerintahan kerajaan kecil di Arosbaya, sedangkan pusat kerajaan kecil tersebut berada di desa Plakaran. Sejarah Kerajaan kecil tersebut tidak lepas dari situs keramat Makam Agung yang terletak di desa Plakaran yang banyak dikenal dengan situs keramat Islam Onggu’ (Islam Mengangguk).

Sebelum adanya kerajaan kecil tersebut, Arosbaya mengalami beberapa masa. Yang pertama Masa dimana sebelum adanya kerajaan kecil, para leluhur di Arosbaya memiliki budaya kerohanian dan kebatinan yang sangat kental yaitu agama sebelum menyebarnya Islam di Arosbaya. Kemudian masa kerajaan kecil di desa Plakaran. Serta masa kerajaan Islam dimana Agama Islam dapat menyebar ke seluruh wilayah Arosbaya hingga ke Madura Barat.

Pada kisaran awal abad ke XV silam, salah seorang keturunan kerajaan yaitu Ki Demung Plakaran yang berasal dari Madegan Kabupaten Sampang, hijrah ke daerah Arosbaya tepatnya di desa Plakaran. dipimpin oleh Ki Demung Plakaran yang apabila dijabarkan secara rinci merupakan keturunan dari Raden Ainul Yaqin, Sunan Giri. Sebelum terbentuknya kerajaan atau pemerintahan kecil tersebut, Ki Demung membentuk kelompok kecil masyarakat, lalu kemudian membentuk sistem pemerintahan kecil serta memposisikan dirinya sebagai pemimpin pemerintahan. Dalam masa pemerintahannya, Ki Demung menjadi panutan masyarakat. Kemudian Ki Demung menikah dengan salah satu gadis yang bernama Ni Sumekar. Pernikahannya bersama Ni Sumekar dikaruniai lima orang anak, yang bernama Pangeran Pramono, Pangeran Pratolo, Pangeran Pratali, Pangeran Panangken, dan Pangeran Pragalba.

Pada saat masa pemerintahan Ki Demung, beliau pernah memperoleh petunjuk pada saat bertapa. Petunjuk tersebut mengisyaratkan bahwa siapa dari salah satu putranya akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin kerajaan. Dan Pangeran Pragalba lah yang kemudian melanjutkan kepemimpinan Ki Demung Plakaran. Setelah Ki Demung wafat, Pangeran Pragalba alias Pangeran Ki Lemah Duwur dinobatkan menjadi pemimpin kerajaan kecil di Plakaran.
Pada masa pemerintahan Pangeran Pragalba, beliau memiliki tiga orang istri. Bersama salah satu istrinya yang bernama Nyi Ageng Mamah dari Madegan Kabupaten Sampang, Pangeran Pragalba dianugrahi tiga orang anak yaitu Raden Pratanu, Raden Prakoso, dan Raden Pranoto. Dan pada saat Pangeran Pragalba sepuh, beliau mengamanahkan putra sulungnya, Raden Pratanu untuk menjadi putra mahkota guna melanjutkan pemerintahan sang ayah.
Pada masa inilah sejarah tentang julukan Pangeran Pragalba sebagai Pangeran Islam Ongguk bermula. Konon, saat Raden Pratanu yang mulai beranjak remaja, sering kali didatangi oleh seorang lelaki amat tampan dan berbusana serba putih (sorban). Setiap kali lelaki tersebut hadir dalam mimpinya, lelaki tersebut selalu menganjurkan agar Raden Pratanu segera mencari tahu tentang agama baru, yakni Agama Islam dan juga dianjurkan agar mendalami agama tersebut ke daerah Kudus.
Karena mimpi yang sama sering dialami Raden Pratanu, akhirnya beliau bercerita pada ayahnya yaitu Pangeran Pragalba. Pangeran Pragalbo kemudian mengutus Patihnya Empu Bageno, untuk pergi ke Kudus agar mencari tahu tentang agama tersebut. Dalam beberapa sumber sejarah Madura, tidak disebutkan apakah keluarga Pangeran Pragalbo saat itu memeluk Agama apa.

Setelah Empu Bageno sampai di daerah Kudus, Empu Bageno kemudian berjumpa dengan Sunan Kudus dan menjelaskan maksud serta tujuannya datang ke Kudus, yaitu untuk mencari tahu tentang Agama Islam. Kemudian Sunan Kudus menegaskan bahwa Empu Bageno akan bisa mendalami Agama Islam jika dia masuk dan memeluk Agama Islam.

Setelah menjadi muslim serta menjadi santri Sunan Kudus yang tekun dan patuh, Empu Bageno akhirnya kembali ke Arosbaya. Setelah Raden Pratanu mengetahui bahwa Empu Bageno telah mempelajari Agama Islam lebih dulu dari pada dirinya, Raden Pratanu merasa marah dan sempat ingin menghukum Empu Bageno. Namun hal itu tidak terjadi dan pada akhirnya Raden Pratanu memeluk Agama Islam dengan mengucap dua kalimat Syahadad.

Sejarah yang telah beredar dimasyarakat, mengatakan bahwa julukan Pangeran Islam Ongguk (Pangeran Pragalba) bermula ketika Raden Pratanu yang mengucapkan kalimat Syahadat didepan ayahnya yaitu Pangeran Pragalba karena dikatakan bahwa beliau masih belum memeluk islam dan pada saat itu dikatakan juga bahwa Pangeran Pragalba mengangguk sebagai isyarat masuk agama islam. Namun penggalan sejarah tersebut dinilai tidak tepat oleh salah satu tokoh masyarakat Bangkalan Kh. Hasanuddin Madani. Beliau merupakan tokoh islam di Bangkalan yang tahu tentang sejarah keislaman di Madura khususnya di Arosbaya. Menurut beliau, julukan pangeran Ongguk bukan merupakan upaya Peng-Isalaman Raden Pragalbo, namun pangeran Pragalba mengangguk merupakan isyarat dari kesepahaman Pangeran Pragalba terhadap Agama Islam dan menyetujui semua gagasan bahwa memeluk Agama Islam dijadikan kebijakan kerajaan. Karena sebenarnya, kerajaan kecil pragalba sudah membawa islam sejak masa pemerintahan Ki Demung Plakaran. Selain itu Pangeran Pragalba juga memiliki tanda bahwa telah beragama Islam yaitu Pangeran Pragalba mengenakan sorban yang dikenakan dibelakang bajunya. Begitulah, sejarah sebenarnya tentang julukan Pangeran Islam Onggu’ yang tidak diketahui masyarakat umum di Madura khususnya di Arosbaya sendiri.

Pada masa kerajaan, persebaran Islam masih secara tertutup karena para keturunan raja khawatir akan adanya perselisihan antara kerajaan dengan budaya kerohanian dan kebatinan yang ada di masyarakat Arosbaya. Para keturunan raja khususnya Ki Demung dan putranya pangeran Pragalba menunggu datangnya tokoh agama yang kokoh untuk mempermudah menyiarkan Agama Islam. Sehingga sejarah yang beredar tidak menjelaskan detail bahwa keluarga Pangeran Pragalba sudah memeluk Agama Islam. Karena apabila dijabarkan, silsilah dari Ki Demung Plakaran akan menujukkan bahwa keturunan kerajaan merupakan keturunan dari Raden Ainul Yaqin Sunan Giri. Berikut catatan silsilah singkat keturunan kerajaan:

Raden Ayu Ireng (Putri dari Raden Pratanu), binti Raden Pratanu, bin Pangeran Pragalba, bin Ki Demung Plakaran, bin Ki Arya Puyung, bin K. Arya Patinggal, bin K. Arya Mangar, bin Ki Lembu Petteng, bin Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Sumber: catatan silsilah dari Kh. Hasanudin Madani

Berdasarkan silsilah tersebut, dapat disimpulkan bahwa keturunan raja Ki Demung Plakaran dan Raden Pratanu sudah memeluk islam, dan karena kentalnya kebudayaan Arosbaya masyarakat arosbaya hingga Raden Pratanu belum mengetahui tentang Agama Islam. Dan sejarah persebaran Agama Islam di arosbaya diawali dari Raden Pratanu yang telah mengetahui Agama Islam dan pada masa itulah Agama Islam mulai menjadi kebijakan kerajaan. Dimasa itu, Raden Pratanu menikah dan dikaruniai 5 orang anak. Salah satu diantaranya adalah putri yang bernama Raden Ayu Ireng. Raden Ayu Ireng kemudian disandingkan dengan keturunan Ulama besar yaitu Pangeran Musyarif yang berasal dari keturunan Syekh dari Timur Tengah.

Pangeran Musyarif merupakan keturunan dari Syekh Jamaludin Akbar al-Husaini (Keturunan Husain). Syekh Jamaludin Akbar merupakan seorang muballigh terkemuka, dan tokoh besar penyebar Islam di Nusantara. Dikisahkan Pangeran Musyarif datang ke Madura tepatnya di Gunung Geger untuk menyebarkan Agama Islam. Dengan disandingnya Pangeran Musyarif dengan Raden Ayu Ireng yang merupakan keturunan dari kerajaan, maka persebaran Islam di Arosbaya semakin pesat sehingga menjadi seperti sekarang. Karena usaha Pangeran Musyarif dalam menyampaikan dakwah Islam, beliau dijuluki dengan nama Pangeran Musyarif Panotogomo yang berasal dari kata Panoto yang berarti penata dan kata Agomo yang berarti agama.


Sehubungan dengan nama desa Dlemer yang mengandung nilai budaya dan agama, diyakini bahwa nama tersebut dibawa oleh Pangeran Musyarif yang meletakkan istilah bahasa kebudayaan serta istilah bahasa arab dalam nama desa Dlemer. Beberapa sumber mengatakan bahwa lokasi tepat beradanya rumah kediaman raja berada di belakang kediaman Kepala Desa Dlemer namun tidak ada bekas peninggalan yang menunjukkan sisa bangunan kediaman raja tersebut. Dikatakan juga bahwa ada peninggalan sejarah berupa Kolla (Pemandian raja) serta lokasi awal beradanya pandai besi di Arosbaya yaitu di Dlemer barat, dan desa Mangkon. Lokasi pandai besi tersebut kemudian dipindah ke daerah lain di Arosbaya yang kemudian dinamakan Pandian yang berarti tempat pandai besi. Namun peninggalan tersebut tidak menyisakan sisa bangunan, sehingga apabila tidak dibangun infrastruktur sejarah, maka masyarakat tidak akan tahu tentang sejarah peninggalan kerajaan di desa Dlemer.


EmoticonEmoticon